pengunjung yg online

Anda pengunjung ke :

Wednesday, February 4, 2009

TANGGUNGJAWAB

Tugas kadang membuat kita lupa akan kebutuhan pribadi. Membuat kita lupa akan diri sendiri yang memiliki banyak kebutuhan, istirahat, makan, tidur dan lainnya. Hal itu terasa dalam 3 (tiga) hari ini. Segudang tugas harus saya selesaikan. Tergadang sisi manusia terlintas dipikiranku sendiri dan terngiang : birokrat yang lain sedang asyik istirahat kita masih kerja, Birokrat lain trima penghasilan yang gede - kita yang kerja keras..... begitukah..?????.

2 (dua) hari terakhir ketika harus menyelesaikan tugas, saya belum bersentuhan sama sekali dengan kasur yang dipaketkan dengan bantal dan guling, serta diselimuti bad cover. Mahlum pekerjaan sudah jatuh tempo (utang kali...). Dalam kondisi lelah (udah 50 jam) belum tidur, datang seorang birokrat (merangkap seorang pengusaha) and langsung berkata : noldy.... bodoh kamu, napa harus paksakan diri kerja, mending pulang istirahat.
Wueleh.... sontak tegangan emosiku naik berlipat, ini bukan persoalan bodoh atau pintar pikirku. dengan keras saya jawab, ini persoalan tanggung jawab. saya bertanggungjwb menyelesaikan pekerjaan ini. bertanggungjawab pada kualitas pekerjaan, bertanggungjawab karena setiap tanggal 1 setiap bulan terima gaji dan bertanggungjawab karena 300 rb masy Jeneponto menunggu hasil dari pekerjaanku dan lebih dari itu, karena Tuhan yang saya percayai dan saya sembah telah memberikan saya talenta untuk bekerja. Di alam lain, orangtuaku (papiku) pasti bangga bahwa dia telah mendidik anaknya untuk menjadi "pengabdi" bagi negeri ini dan bukan menjadi pengacau negeri. pak, lanjut saya: tanggung jawab jangan samakan dengan kebodohan, kalo bapak tidak memiliki tanggung jawab, bukan berarti bapak lebih pintar dari saya.

Miris dan sedih....
itulah yang selalu dirasakan birokrat seperti saya.
semua pekerjaan yang diselesaikan kadang mendapat reward yang menawarkan hati.
rajin sering diartikan cari muka (menjilat)
hidup sederhana diartikan tidak kreatif.
hidup sedikit enak dituding korupsi

itulah dunia birokrat
namun, kala hati sedang dibuat kecewa.
sejenak saya merenung dan mengingat hymne abdi praja

DEMI TUHAN YANG MAHA ESA
NUSA DAN BANGSA
KAMI BERSUMPAH SETIA
UNTUK MENGABDI DAN MELINDUNGI

SERTA MENGAYOMI BANGSAKU, NEGERIKU, TANAH AIRKU
INDONESIA
KUSERAHKAN
SELURUH
JIWA RAGAKU

KUSERAHKAN
SELURUH BHAKTIKU
UNTUK PERTIWI

TERIMALAH PENGABDIANKU
TERIMALAH BHAKTIKU

ABDI PRAJA
DHARMA SATRIA
NAGARA BHAKTI



Akhirnya :

SEMOGA TUHAN MEMBERKAHI NEGERI INI
AMIN



Wassalam
Saran Anda Akan Menambah Sejuta Ide Saya