pengunjung yg online

Anda pengunjung ke :

Tuesday, October 8, 2013

Federal Government Shutdown, Sejarah yang Berulang dalam Praktek Pemerintahan di Amerika Serikat

 
Sejarah Pemerintahan di Amerika Serikat telah beberapa kali terjadi Government Shutdown (penutupan pemerintahan ) yaitu situasi ketika Kongres gagal menyepakati anggaran yang diperlukan untuk operasi pemerintahan. Biasanya pemerintah berhenti menyediakan semua layanan selain yang "penting" saja, namun karena Kongres harus mengesahkan semua pengeluaran pemerintah, tidak ada hukum yang melindungi layanan pemerintah apapun dari penutupan. Layanan federal boleh diteruskan untuk sementara setelah penutupan, termasuk National Weather Service dan lembaga induknya, layanan kesehatan di fasilitas federal, angkatan bersenjata, pengawasan lalu lintas udara (ATC), dan sistem penjara.
Pada pemerintahan presiden Ford dan Carter, terjadi penutupan pemerintahan secara parsial sebanyak 6 kali yang hanya memengaruhi Departemen Tenaga Kerja dan Kesehatan, Pendidikan, dan Kesejahteraan. Penutupan parsial ini berlangsung mulai 8 sampai 18 hari dan masalah utamanya adalah anggaran federal untuk aborsi. Pada era pemerintahan Reagan, terjadi 8 penutupan pemerintahan secara penuh yang berlangsung selama 1 sampai 3 hari dan masalah utamanya adalah defisit anggaran Amerika Serikat. Ada pula penutupan selama 4 hari pada masa pemerintahan pertama Bush.
Pada era pemerintahan Clinton, setelah kubu konservatif menang besar di Kongres dalam Revolusi Republik 1994, terjadi dua penutupan pemerintahan secara penuh selama 5 dan 21 hari. Penutupan yang terakhir adalah yang terlama sepanjang sejarah. Lagi-lagi masalah utamanya adalah defisit anggaran Amerika Serikat.

Saturday, October 5, 2013

Sejarah Pemikiran Ekonomi Aliran Institusional


I.      PENDAHULUAN
Seiring berita tentang kebangkrutan beberapa perusahaan raksasa di Amerika Serikat akibat krisis keuangan di akhir tahun 2008 lalu, beberapa media menulis gaya hidup mewah CEO sebuah perusahaan yang sedang mengalami kesulitan finansial dan menuju kebangkrutan. Di tengah usaha pemerintah USA melakukan tindakan penyelamatan ekonomi negara adidaya, ternyata manejer-manejer perusahaan justru sedang asyik dengan kebiasaan hidup “menghambur-hamburkan uang” yang telah menjadi bagian dari gaya hidup para jet set.
Berita tersebut diatas menguak ketika ekonomi kapitalis (klasik) telah dipertanyakan ketangguhannya menghadapi guncangan krisis. Salah urus perusahaan dari para manejer keuangan di perusahaan-perusahaan raksasa USA juga dituding sebagai biang dari permasalahan tersebut. Namun dibalik berita-berita tersebut,  mengingatkan kita pada aliran pemikiran ekonomi institusional yang dirintis oleh Thorstein Bunde Veblen (1857-1929). Inti pemikiran Veblen dapat dinyatakan dalam beberapa kenyataan ekonomi yang terlihat dalam perilaku individu dan
masyarakat tidak hanya disebabkan oleh motivasi ekonomi tetapi juga karena motivasi lain (seperti motivasi sosial dan kejiwaan), maka Veblen tidak puas terhadap gambaran teoretis tentang perilaku individu dan masyarakat dalam pemikiran ekonomi ortodoks. Dengan demikian, ilmu ekonomi menurut Veblen jauh lebih luas daripada yang ditemukan dalam pandangan ahli-ahli ekonomi ortodoks. Veblen pada intinya mengkritik teori-teori yang digunakan kaum klasik dan neo-klasik yang model-model teoritis dan matematisnya dinilai bias dan cenderung terlalu menyederhanakan fenomena-fenomena ekonomi. Pemikiran-pemikiran ekonomi klasik dan neo klasik juga dikritiknya karena dianggap mengabaikan aspek-aspek non ekonomi seperti kelembagaan dan lingkungan. Padahal  Veblen menilai pengaruh keadaan dan lingkungan sangat besar terhadap tingkah laku ekonomi masyarakat. Struktur politik dan sosial yang tidak mendukung dapat meinblokir dan menimbulkan distorsi proses ekonomi.

Sejarah Pemikiran Ekonomi Praklasik, Klasik, Sosialis dan Neoklasik



Sejarah Pemikiran Ekonomi Kaum Perintis Sosialis
1.   Konsep-konsep ekonomi dari kaum perintis ditemukan terutama dalam ajaran-ajaran agama, kaidah-kaidah hukum, etika atau aturan-aturan moral. Misalnya dalam kitab Hammurabi dari Babilonia tahun 1700 sM, masyarakat Yunani telah menjelaskan tentang rincian petunjuk-petunjuk tentang cara-cara berekonomi.
2.   Plato hidup pada abad keempat sebelum Masehi mencerminkan pola pikir tradisi kaum ningrat. Ia memandang rendah terhadap para pekerja kasar dan mereka yang mengejar kekayaan. Plato menyadari bahwa produksi merupakan basis suatu negara dan penganekaragaman (diversivikasi) pekerjaan dalam masyarakat merupakan keharusan, karena tidak seorang pun yang dapat memenuhi sendiri berbagai kebutuhannya. Inilah awal dasar pemikiran Prinsip Spesialisasi kemudian dikembangkan oleh Adam Smith.
3.   Aristoteles merupakan tokoh pemikir ulung yang sangat tajam, dan menjadi dasar analisis ilmuwan modern sebab analisisnya berpangkal dari data. Konsep pemikiran ekonominya didasarkan pada konsep pengelolaan rumah tangga yang baik, melalui tukar-menukar. Aristoteleslah yang membedakan dua macam nilai barang, yaitu nilai guna dan nilai tukar. Ia menolak kehadiran uang dan pinjam-meminjam uang dengan bunga, uang hanya sebagai alat tukar-menukar saja, jika menumpuk kekayaan dengan jalan minta/mengambil riba, maka uang menjadi mandul atau tidak produktif.
4.   Xenophon seorang prajurit, sejarawan dan murid Socrates yang mengarang buku Oikonomikus (pengelolaan rumah tangga). Inti pemikiran Xenophon adalah p

Uang, Bunga dan Pendapatan dalam Sistem Keynesian


(disadur dari Bab.VI buku MACROECONOMICS oleh  R.T FROYEN)


UANG DALAM SISTEM KEYNESIAN 
 Asas teori uang Keyne’s adalah pandangannya tentang pengaruh uang terhadap pendapatan melalui tingkat bunga. Sebuah peningkatan pada stock uang, contohnya, penurunan tingkat bunga dan tingkat bunga yang lebih rendah, pada gilirannya meningkatkan permintaan aggregat dan pendapatan. dimana perlu menguji dua hubungan dalam rangkaian peristiwa menghubungkan perubahan pada stock uang dan perubahan pada pendapatan. Pertama adalah hubungan antara uang dan tingkat bunga. Kedua adalah dampak dari tingkat bunga pada permintaan aggregat. Selanjutnya dilihat dua bagian pokok pada perhubungan ini, permulaan dengan akhiran.

TINGKAT BUNGA DAN PERMINTAAN AGGREGAT
Kami sudah siap mempertimbangkan alasan-alasan mengapa investasi bisnis tergantung pada tingkat bunga. Singkatnya, sebuah proyek investasi mengharapkan keuntungan melebihi ongkos meminjam untuk membiayai proyek dengan jumlah yang cukup untuk memberi alasan pada resiko. Ketika mempertimbangkan sebuah tingkat bunga, kita juga harus mempertimbangkan

Wage Led Growth


 
Pendahuluan
Apakah Upah dapat memgakibatkan pertumbuhan ekonomi? Pertanyaan tersebut membuka tulisan ini sebagai bagian dari pencarian ilmiah terhadap berbagai isu ekonomi yang sedang dihadapi utamanya dalam wilayah makro ekonomi..
Secara makro economi GNP/GDP dapat dihitung dengan beberapa methode dan indikator. Dalam kaitannya dengan produktifitas maka dengan GDP dapat dihitung pula berapa Total Factor Productifity (TFP) dari sebuah negara. TFP menggambarkan sejauh mana Capital dan Labour dapat bersinergi sehingga menghasilkan output yang lebih besar.
Walaupun sebagian ahli ekonomimakro setuju bahwa kebijakan moneter dapat mempengaruhi pengangguran dan output, paling tidak dalam jangka pendek cabang baru dari klasik menentang pendekatan standar. Pendekatan ini hamper sama dengan pendekatan

Kritikal Review terhadap Penelitian: GROWTH, PUBLIC POLICY AND THE GOVERNMENT BUDGET CONSTRAINT: EVIDENCE FROM OECD COUNTRIES


by Richard Kneller, Michael Bleaney and Norman Gemmell


I.              PENGANTAR
Penelitian mengenai “Growth, Public Policy and the Government Budget Constraint : Evidence From OECD Countries, oleh Richard Kneller, Michael Bleaney dan Norman Gemmell diambil dari Jurnal diambil OECD  edisi 3 April 1999. Penelitian ini bertujuan ingin menguji apakah bukti dari negara OECD adalah konsisten dengan model pertumbuhan endogenus  yang struktur pajak dan pengeluaran pemerintah  dapat berdampak pada tingkat pertumbuhan yang steady state. Seperti diketahui bersama, OECD bernaggotakan 30 negara yaitu  Australia, Austria, Belgia, Kanada,Republik Cekoslowakia, Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Hungaria, Irlandia,Italia, Jepang, Korea Selatan, Luksemburg, Meksiko, Belanda, Selandia Baru,Norwegia, Polandia, Portugal, Republik Slovakia, Spanyol, Swedia, Swis, Turki, Inggris dan Amerika Serikat.

Pertanyaan mendasar yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah apakah pembagian pengeluaran pemerintah dalam keluaran atau komposisi pengeluaran dan pendapatan mempengaruhi tingkat pertumbuhan Jangka Panjang?

II.            TEMUAN – TEMUAN PENELITIAN
Menurut model pertumbuhan neoklasik dari Solow (1956) dan Swan (1956) jawaban dari pertanyaan penelitian ini seudah dapat diterka adalah tidak. Walaupun pemerintah dapat memberikan pengaruhnya lewat berbagai kebijakannya, utamnya kebijakan yang dapat mempengaruhi perkembangan penduduk dalam suatu negara namun pemerintah tidak dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan pendapatan per kapita dalam jangka panjang. Dalam model pertumbuhan neoklasik tersebut, pajak dan pengeluaran pemerintah berpengaruh terhadap tingkat saving pada faktor-faktor tingkat pertumbuhan dalam rasio tertentu. Kebalikan dengan model
Neoklasik tersebut adalah model pertumbuhan endogenus yang diperkenalkan oleh Barro (1990), Rebelo (1990) dan Lucas (1990) dimana menurut model ini pajak, pengeluaran pemerintah dalam jangka panjang dapat mempengaruhi pertumbuhan dalam jangka panjang.
Hasil dari penelitian ini kemudian menemukan bahwa pada negara-negara OECD, model pertumbuhan endoenus lebih konsisten dengan bukti-bukti empiris yang terjadi di negara-negara OECD. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa pada negara-negara OECD pajak, pengeluaran pemerintah dalam jangka panjang dapat mempengaruhi pertumbuhan dalam jangka panjang.






















KRITIKAL REVIEW TERHADAP PENELITIAN TENTANG GOVERNMENT CONSUMPTION VOLATILITY AND THE SIZE OF NATIONS


By Davide Furceri and Marcos Poplawski Ribeiro


I.       PENDAHULUAN

Penelitian mengenai “Government Consumption Volatality and the size of Nation, diambil dari Jurnal ECO/WKP/(2009)08 yang pada awalnya menyebutkan bahwa tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa hubungan antara volatiliti konsumsi pemerintah dengan ukuran suatu negara dengan menggunakan sampel dari 160 negara dari tahun 1960 sampai dengan tahun 2000. Penelitian ini menemukan bahwa : 1. negara – negara kecil lebih fluktuasi konsumsi pemerintah baik karena kebijaksanaan yang bebas maupun yang tertentu.2. Hubungan antara Fluktuasi konsumsi pemerintah dengan ukuran negara adalah lebih negatif untuk ekonomi yang lebih fluktuatif.3. Hubungan antara Fluktuasi konsumsi pemerintah dengan ukuran negara adalah lebih negatif untuk fungsi belanja pemerintah yang  berkarakteristik tingkat tinggi dalam tidak adanya kompetitor. Hasil penelitian ini adalah sehat  dalam perbedaan waktu dan contoh-contoh negara, teknik ekonometrik dan beberapa penetapan variabel kontrol.
Seperti diketahui dalam beberapa tahun terakhir, berkembang berbagai literatur ekonomi yang  memfokuskan diri pada  dampak ukuran suatu negara terhadap  berbagai manfaat ekonomi. Dari sebuah titik ekonomi yang dipandang  tanda-tanda adanya dampak dari ukuran negara telah terlihat (Alesina dan Spoalore,2003). Alesina and Wacziarg (1998) memperlihatkan kekuatan pengeluaran-pengeluaran pemerintah pada negara-negara kecil    dalam memberikan kontribusi terhadap GDP negara tersebut.

TINJAUAN ARAH PEMBANGUNAN INDONESIA




Pendahuluan
Indonesian Human Development Index (IHDI) menunjukkan masih buruknya kualitas pembangunan manusia serta pelayanan sosial di Indonesia. Ini berarti butuh peningkatan investasi untuk hal-hal seperti kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. Tapi haruskah semuanya dibebankan langsung ke anggaran pemerintah?
Pikiran Dasar
Pikiran dasar (premis) penulisan ini adalah arah pembangunan Indonesia diarahkan pada

TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI



I.DEFINISI PERTUMBUHAN EKONOMI

Pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan outputriil. Definisi pertumbuhan ekonomi yang lain adalah bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi bila ada kenaikan output perkapita. Pertumbuhan ekonomi menggambarkan kenaikan taraf hidup diukur dengan output riil per orang.

Saran Anda Akan Menambah Sejuta Ide Saya