pengunjung yg online

Anda pengunjung ke :

Saturday, August 17, 2013

Pendekatan Mikro ekonomi dalam memahami perilaku Konsumen


Teori perilaku konsumen (the theory of consumer behavior) menjelaskan bagaimana konsumen mengalokasikan pendapatan mereka untuk membeli berbagai macam barang dan jasa.(Pindyck dan RubinFeld, 2009). Konsumsi terhadap barang dan jasa akan menghasilkan kepuasan konsumen atau satisfaction, yang dalam ilmu ekonomi dinamakan utilitas.
Telah lama terjadi perdebatan yang panjang tentang utilitas dalam ilmu ekonomi. Para ekonom neoklasik menganggap  utilitas (daya guna) suatu barang tidak perlu diukur, cukup untuk diketahui dan konsumen mampu membuat urutan tinggi rendahnya daya guna yang diperoleh dari mengkonsumsi sekelompok barang yang dikenal dengan Ordinal Utility Approach diperkenalkan oleh Hicks dan Allen. Sedangkan banyak pula ekonom yang
berkeyakinan bahwa  daya guna dapat diukur dengan satuan uang atau utilitas, dan tinggi rendahnya nilai atau daya guna tergantung kepada subyek yang menilai. Pendekatan ini juga mengandung anggapan bahwa semakin berguna suatu barang bagi seseorang, maka akan semakin diminati. Pendekatan kardinal biasa juga disebut sebagai pendekatan marginal utility.
1.    Pendekatan Kardinal.
Pendekatan kardinal didasari oleh beberapa asumsi utama. Asumsi pertama bahwa utility tidak hanya dapat diperbandingkan tetapi dapat pula diukur. Satuan ukur yang digunakan dinamakan “util”. Karena realita menunjukan sangat sulit mengukur tingkat kepuasan seseorang maka asumsi ini sering disebut tidak realistik. Inilah yang selalu ditonjolkan sebagai kelemahan dari pendekatan kardinal, namun dari segi lain pendekatan kardinal memiliki banyak kelebihan diantaranya adalah lebih muda untuk dipahami/dimengerti konsep kepuasan seseorang.         
Dalam pendekatan kardinal juga menggunakan asumsi berlakunya hukum Gossen I yang dikemukakan oleh ahli ekonomi Jerman Hermann Heinrich Gossen (1810-1858). Hukum Gossen menyatakan bahwa semakin banyak sesuatu barang dikonsumsi, maka tambahan kepuasan (Marginal Utility) yang diperoleh dari setiap tambahan yang dikonsumsi akan menurun. Hukum Gossen ini dikenal dengan Law of Diminishing Marginal Utility. Yang dimaksud dengan Marginal Utility merupakan pertambahan (atau pengurangan) kepuasan sebagai akibat dari pertambahan (atau pengurangan) dari konsumsi satu unit barang tertentu.          
Asumsi lainnya dari pendekatan kardinal adalah konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan total (Total Utility) yang maksimum. Total Utility adalah jumlah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah barang tertentu.
Hubungan antara Total Utilitas (TU), Average Utility (AU) dan Marginal Utility (MU) dapat ditulis sebagai berikut:
      TUn = MU1 + MU2 + MU3 + …….. + MUn    …….………………………...          1.1
      Atau
      TUn =      ..……………………………………..........………….....1.1.a
      Atau
      TUn = AUn x n          ..........…………………………………………………1.1.b
      Mencari Kepuasan Rata-rata (Average Utility).
       AUn = TUn : n     …………………………………………………………   1.2
      Atau
      AUn =      ………………………………………………………. 1.2.a
     

      Mencari Guna Batas (Marginal Utility = MU )
      MUn =  ……………………………………………………….            1.3
      Atau
MUn = AUn x n – AUn-1 x (n-1)    ………………………………………..   1.3.a

Konsumen selalu diperhadapkan pada keterbatasan pendapatan. Untuk itu selalu ada Garis anggaran (BL)  yang memperlihatkan sejumlah dana yang dimiliki konsumen (M) yang dapat dipergunakan untuk membeli beberapa jenis barang (n jenis) pada tingkat harga masing-masing.
      M = X.Px + Y.Py + Z.Pz + ………… + N.Pn  ………………….………… 1.4
      Bila hanya ada dua jenis barang, misalnya barang X dan Y:
      M = X.Px + Y.Py……………………………………….…………………....1.4.a

Keseimbangan konsumen memperlihatkan total kepuasan maksimum yang diperoleh konsumen dari membelanjakan sejumlah dana (M) untuk membeli beberapa jenis barang (n jenis) pada tingkat harga masing-masing. Bila hanya ada satu jenis barang (barang X ), maka keseimbangan konsumen tercapai bila marginal utility barang tersebut sama dengan harganya
      MUx = Px    …………………………………………………………………….1.5
      Atau
      = 1     ………………………………………………………………….1.5.a
      Bila ada beberapa jenis barang (n jenis), maka keseimbangan konsumen tercapai bila :
       ……………………………………1.6
      Untuk penyederhanaan dalam analisis, kita asumsi hanya ada dua barang yang dibeli konsumen (barang X dan y ), maka keseimbangan konsumen tercapai bila :
        atau  …………………………………………….1.7


2.     Pendekatan Ordinal
Kelemahan dalam penggunaan pendekatan kardinal adalah pada asumsi bahwa nilai utiliti/kepuasan dapat diukur dengan angka-angka. Pada kenyataannya kepuasan merupakan sesuatu yang tidak mudah diukur sehingga sangat sulit diukur dengan angka. Kondisi demikian membuat Sir John R Hicks mengembangkan pendekatan Ordinal dengan menggunakan kurva kepuasan sama (Indifference Curve). Pendekatan Ordinal menggunakan asumsi-asumsi sebagai berikut Koutsoyiannis,1985) :
(a)  Rasionalitas. Konsumen diasumsikan rasional dimana selalu berusaha memaksimumkan utilitinya, berdasarkan pendapatannya dan harga pasar tertentu serta memiliki pengetahuan yang cukup tentang semua informasi yang relevan.
(b)   Utility adalah Ordinal. Konsumen dianggap dapat menyusun secara urut (Rank) pilihan-pilihannya terhadap berbagai kelompok barang (Basket’s of goods) berdasarkan tingkat kepuasan setiap kelompok.
(c)  Tingkat subtitusi marginal yang menurun (diminishing marginal rate of subtitution). Pilihan-pilihan (preferences) disusun dalam bentuk kurva indeferen, yang diasumsikan cembung (convex) pada titik origin. Hal ini menunjukan bahwa slope kurva indeferen adalah menaik. Slope kurva indeferen ini disebut tingkat subtitusi marginal dari suatu komoditi. Pendekatan kardinal didasarkan pada aksioma ini.
(d)  Total Utiliti tergantung pada kuantitas komoditi yang dikonsumsi. Secara matematis ditulis : U = ⌠f(q1,q2,q3, ......,qn).
(e)  Konsistensi dan transivitas dalam pilihan. Konsumen diasumsikan dalam pilihannya yaitu, jika pada suatu waktu ia memilih kelompok barang A dari kelompok barang B, ia tidak akan memilih kelompok barang B dari pada kelompok barang A pada saat yang lain. Asumsi konsistensi dapat ditulis dengan simbol: Jika A>B, maka B>A. Sifat transitivitas : jika A lebih disukai daripada B, dan B lebih disukai daripada C, maka A lebih disukai daripada C. Asumsi ini dapat ditulis dengan simbol: Jika A > B, dan B > C, maka A>C.  

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :
Saran Anda Akan Menambah Sejuta Ide Saya